Sebuah cerpen
Selimut hati
Minto mondar mandir
di tepi jalan
yang ramai, ia keluar masuk
rumah yang tak ia kenal.
Setiap ia keluar
dari rumah selalu
wajah mendung yang
tersirat. Ternyata sudah
seharian dan memakan waktu
berminggu-minggu minto mencari pekerjaan
mungkin nasipnya yang
lagi sial membuat
tak satupun pekerjaan
yang ia dapatkan.
Padahal ia mau
menerima pekerjaan apa saja,
menyapu halaman rumah, jadi tukang taman, menjaga toko,
mencuci pakaian, memasak, bahkan
merawat bayi dia
mau meskipun ia
terlahir seorang lelaki.
Usia minto
berkisar tiga puluh tahun, idealnya
ia sudah berumah
tangga atau paling
tidak ia memikirkan
agar segera membina
rumah tangga. Namun
hati minto berkata
lain, ia tak
mau ambil pusing
memikirkan itu. Sebab
jika cepat-cepat menikah
mau di kasih
makan apa anak
istrinya nanti.
Suatu saat
jika uangku mencukupi
aku akan menemukan
belahan jiwaku” bisik
hati minto. Hidup
di kota kecil
memang tak mudah
bagi seorang lajang
yang menganggur pula.
Dan mana ada
perempuan yang mau
dengan orang yang
hanya membuat beban
hidup semakin berat.
Komitmen minto semakin kuat
untuk mendapatkan pekerjaan
yang layak meskipun
itu tak mudah,
ia terus berusaha
mencobanya.
Pagi yang
cerah, nasip baik
menyapanya ketika minto
duduk murung di
tepi jalan yang sunyi. Seorang
wanita gembrot kulitnya
seperti buah sawo
berusia sekitar 35
an menghampirinya dan
menawarkan untuk bekerja
sebagai pelayan di restaurantnya. Hati
minto senang bukan
main bagaikan mendapatkan durian
runtuh. Tentunya minto
tak ingin menanyakan
soal gaji dan
ini itu sebab
ia orangnya mudah
menerima apa adanya
dan rajin dalam
mengerjakan kerjaan apa
saja.
Restaurant ini
sangat ramai sebab
baru saja resmi
beberapa minggu dan
letaknya sangat strategis.
Di seberang jalan
berdiri hotel berbintang tiga
di sebelah kanan
ada toko baju,
di sebelah toko
baju itu ada bank
mandiri berhadapan dengan
bank BRI. Jarak
lima belas meter
berdiri pom bensin
yang aktif dua puluh empat jam.
Minto yang selalu
menjaga sopan santun
kepada setiap tamu dan
pelanggan yang datang
membuat para langganan
semakin banyak yang
bertahan. Penampilan minto
juga rapi dan wajahnya
yang tampan tanpa
ada bekas jerawat
membuat wanita seprofesinya
jatuh cinta kepadanya.
Saat ini hati Minto berbunga-bunga, sebab
apa yang ia
inginkan dulu di
jawab oleh tuhan
satu persatu. Wanita itu
bernama Ria Asmara
gadis yang berkulit
putih mulus tanpa ada
bekas cacat di
kaki dan tangannya, wajahnya berbentuk
bulat telur berhidung
mancung, bibirnya tipis
dan merah alami, bulu
matanya nan lentik
serta pandangannya yang
begitu jeli membuat
setiap pria memandangnya ingin
meninggalkan istri ataupun
pacarnya. Tapi Kekurangan
ria ada pada
sifatnya, ia tak
peduli ketulusan hari
orang terhadapnya, ria
lebih menilai dari
sudut kamampuan materinya.
Ria sosok wanita
yang tak tahan
jika di iming-imingi
dengan kemewahan hatinya
akan berubah dari putih
menjadi biru, jika
melihat sesuatu yang
wah. Hal ini
juga di sadari
minto sebagai kekasihnya,
namun cinta telah
membutakan hati minto membuat
ia tak perduli
bagaikan ban mobil
yang sudah bocor
halus namun ia
nekat menempuh perjalanan
jauh yang tak
ada pemukiman di sepanjang
jalan.
Hubungan minto
dengan ria semakin
hari semakin serius.
Mereka merencanakan hari
pernikahan yang tepat,
kesepakatan terjadi di
antara mereka enam bulan kemudian.
Kesungguhan minto pun untuk
bekerja semakin bertambah
sebab untuk membiayai
pesta pernikahanya nanti.
Akhir-akhir ini Minto
sering kelelahan, membuat
komunikasinya dengan Ria
agak renggang. Ria
juga biasa saja,
tidak ada tanda-tanda
ia menuntut ingin
di perhatikan. Setelah
berselang dua bulan
sejak mereka berjanji
perubahan pada ria
terlihat jelas. Ria
mulai sering keluar
malam tanpa ada
ijin dari minto
setiap ditanya dari mana, selalu
ria marah-marah gak
karuan. Minto hanya
terdiam, kadang ia masa
bodo dengan masalah ini.
Tingkah Ria
semakin hari semakin
tak punya aturan, bagi
minto gadis nan
cantik jelita itu
kini berubah seperti
mahluk jadi-jadian yang
begitu menjijikan. Malam sabtu
setelah azan magrib
ria keluar dengan
pakaian setengah jadi
dan hampir seluruh
auratnya terlihat. Ia
bisa keluar karena
shif kerja malam
dia tidak masuk,
dan secara diam-diam
Minto minta cuti
malam ini kepada
pemilik restaurant yang gembrot
itu. Diikutinya Ria dari
kejauhan agar tidak
ketahuan.
Samar-samar dari
jauh ria masuk
dalam mobil pribadi dan
maju perlahan. Dengan
cekatan minto memangil tukang
ojek untuk mengikuti mobil itu. Dan akhirnya
mobil itu berhenti di
depan rumah makan
yang menyajikan menu
spesial dari ayam. Lelaki
bertubuh besar keluar dari
pintu paling depan
sebelah kanan dan
menghampiri pintu sebelah
kiri dan membukanya
ria keluar dan
mereka berjalan dengan
mesra menuju rumah
makan itu. Darah
Minto mendidih tak karuan.
Minto memberanikan masuk
ke dalam rumah
makan berkelas itu dan memesan
beberapa menu, dari
kejauhan diawasinya kekasihnya bersama lelaki
yang berusia senja.
Sekilas minto
melihat wajah lelaki
yang membawa kekasihnya
itu dan mencoba mengingat-ingat sepertinya
ia pernah melihat
lelaki tua itu
sebelumnya.
Minto mengingat
ketika ada pemilihan
walikota beberapa bulan
lalu dan lelaki
ini adalah salah
satu walikota yang
gagal. Lelaki tua ini
juga mendududki bagian
eksekutif di perusahaan tambang
emas terbesar di
indonesia. Kini persendian
minto seakan tidak
terhubung lagi, tulang terasa
seakan di cabuti malaikat
maut satu persatu,
pikiran minto tidak
karuan dan menduduki
di bawah normal.
Prustasi berat yang di
rasakan minto saat ini.
Keesokan harinya, Sinar matahari pagi
menembus dari celah
jendela membuat mata minto sakit
untuk di buka
lebar-lebar. Dengan terpicing-picing mata
minto memandangi di
sekeliling ruangan putih itu.
Kemudian matanya berhenti pada
sebuah senyum yang
dulu selalu membuat hatinya merasa
damai. Senyum itu
begitu manis di
pandangan mata Minto,
namun minto kali ini muak
dengan senyum palsu itu.
Minto meringis kesakitan sebab
rasa nyeri di
kaki bagain kiri
mengurungkannya untuk berdiri.
“ kenapa aku
ada disini ?” Minto
bertanya dengan polos.
“ sayang, kamu
tadi malam kecelakaan, ada yang memberi tahuku bahwa
kamu di tabrak
mobil makanya aku
jadi tahu, dan
membawamu kerumah sakit.”
Kata-kata manis keluar
dari bibir tipis Ria.
Minto sudah
tahu semuanya, dan
masih ingat kejadian
tadi malam. tapi
mengapa ria masih
selalu bersandiwara.
“Siapa lelaki
itu ?” sanggah minto
“Om itu
mengajakku jalan karena
dia mempunyai satu
proyek dan membutuhkan
pengelolanya makanya aku
di ajak jalan
supaya tahu bagaimana
cara menjalankan proyek itu.”
Kata-katanya yang
begitu manis tapi
tak semudah itu
minto dapat di
kelabuhi. Minto terus
mendesak agar ria
berterus terang. Ria terpojok
bercampur emosi, ia mengatakan
sejujurnya ,
“Asal kamu tahu
ya, sebenarnya aku
hanya sekedar suka denganmu dan
aku hanya bermain
denganmu dua minggu
lagi aku menikah
dengan Om itu,
aku rela jadi
istri simpanannya yang
ke delapan, dari pada
menjadi istrimu aku
menderita dunia akhirat.”
Hati minto
hancur total , Ria
melupakan janji pernikahanya yang
hanya menghitung bulan
dengannya. Minto kehilangan
semangat hidupnya. Hari-hari
minto di habiskannya
di rumah kontrakannya
yang sempit. Ia
menjadi mahluk yang
sensitif tak mau
bergaul, waktunya hanya
di habiskan melamun
dan menulis , hingga
buku diarinya berserakan
di mana-mana.
Ibu gembrot
mantan majikannya datang
kerumah minto karena
ia merasa iba
dengan keadaan minto
yang hidup sebatang
kara.
“Buat apa
ibu datang kemari ?” suara
minto yang serak bercampur
nada kebencian.
Namun ibu
gembrot itu paham
dengan masalah Minto
jadi ia tidak menilai
negatif dari sikap
minto yang menjadi
pembentak sekarang. Ibu
itu pun angkat
bicara
“Minto ibu
sangat prihatin melihat
keadaanmu nak, ibu
tau hatimu sedang
hancur tapi tolong
jangan kamu hancurkan
juga masa depanmu.
Kamu itu laki-laki,
kamu itu berhak atas
segalanya. Ria akan senang
jika kamu frustasi seperti ini
dia akan merasa
benar pilihannya meninggalkan
kamu. Balaslah dendammu
dengan cara yang
terhormat, buatlah dia
merasakan beribu sesal
karena telah meninggalkan
cinta sucimu. Kamu
sangat berjasa bagi
ibu karena kamu
usaha ibu berkembang
pesat. Berkat kamu
juga ibu memiliki
10 cabang restaurant
di kota-kota besar.
Maka dari itu
ibu merasa berhutang
budi kepadamu. Ibu
ingin kamu mengelola
lima rumah makan
dan semuanya menjadi hak
milikmu, sebab ibu
inikan mandul. Ibu
tak ingin harta yang
banyak nanti menjadi
pertumpahan darah bagi saudara-saudaraku.”
Kata-kata itu mengigatkan minto
pada ibu kandungnya
yang telah pulang
kepangkuannya beberapa tahun
lalu, dan kata-kata terakhir
yang di ucapkan
Ibunya “ jadilah
orang yang mapan
dulu nak ! “ .
Semangat baru minto
tumbuh lagi, ibu
gembrot itu senang
bukan main. Mereka
pergi kesana kemari
mengurus surat-surat perpindahan
hak milik. Minto
berjanji akan merawat
ibu gembrot sampai
ajal menjemputnya. Meskipun
minto dan ibu
gembrot kenal ketika
sudah besar dan
tak ada hubungan darah
kekeluargaan. Tapi mereka
tak jauh beda hubungannya
seperti antara ibu
dengan anaknya.
Hidup minto
mulai berubah perlahan,
ia melupakan wajah Ria
asmara yang pernah
tinggal di hatinya
dan meninggalkan bekas luka yang
dalam. Minto beruntung
mendapatkan lia, gadis muslimah
ini menghadiahi minto
2 anak imut
yang menggemaskan. Perusahaan yang
di kelola minto
pun terus berkembang.
Di berbagai
surat kabar dan
berita sekitar kota
gempar atas meninggalnya
orang elit ekcekutif
orang yang mempunyai pengaruh dalam
hal kekayaan itu
di kabarkan hari
ini meninggal. Papan
duka cita berderet
di sepanjang jalan
di kota itu. Semua orang berbelasungkawa, Minto
melihat foto besar
yang dibawa mobil
jenajah itu, membuat
sakit kepalanya kambuh
masa lalunya teringat
kembali. Namun perlahan
ia mampu menguasai
dirinya. Ternyata yang
meninggal itu lelaki
yang membawa ria
delapan tahun yang lalu.
Bagaimana nasip Ria
sekarang ?
Keluar masuk
kota untuk memantau beberapa usaha
baru yang di bangun
Minto, membuat minto
hilir mudik dan
waktunya kebanyakan habis
di perjalanan. Pas
ketika di rambu lalu
lintas triflight berada di
warna merah. Mobil-mobil
berhenti, sepeda motor meraapat
salig berjejal-jejalan. Satu
persatu gelandangan dan
pengemis menodongkan kaleng
lusuh di jendela
kaca mobil-mobil yang
mengkilat akibat terpaan
sinar matahari. Mata Minto terpaku
pada pengemis muda
membawa anaknya mungkin
kelas 2 SD,
sama-sama membawa kaleh
bekas. Sepertinya minto
mengenal pengemis wanita
yang berkulit putih
itu, yang membuat
Minto ragu adalah
pakaiannya yang compang-camping serta
gaya sisiran rambutnya
seperti penyanyi rock
yang sedang lompat-lompat
di atas paggung
membuat Minto mengurungkan niatnya
untuk menegurnya, ia
hanya memberikan uang
nilainya cukup besar bagi
gelandangan beberapa lembar.
Membuat pengemis itu
ngangguk-ngangguk seperti itik
yang baru menemukan
air yang bersih.
Sering Minto
bertemu pengemis wanita
muda bersama anak
kecil itu, namun tak
sekalipun mata mereka bertemu
saling bertatapan. Rasa penasaran di
hati minto semakin menjadi. Kali
ini ia menjalankan
mobilnya perlahan berharap
sampai di tempat
rambu –rambu lalu lintas
lampu merah menyala.
Pas sampai pada rambu
itu lampu sudah merah
matanya mulai mencari-cari
di sekiling berharap
dapat melihat pengemis muda
itu. Tak berapa lama
ia hanya menemukan
anak kecil yang biasa
bersama wanita muda
tempo hari. Ia
memanggil anak kecil itu
dengan melambaikan tangannya, anak itu
berlari dan di suruh minto
masuk ke dalam
mobil. Awalnya anak
itu menolak sebab
ibunya berpesan “jangan mau
di ajak orang yang
tidak di kenal
sebab itu adalah
penculikan.” Yang membuat
anak kecil itu
mau ikut Minto
karena sudah sering
Minto memberikan ia
uang dalam jumlah
yang cukup lumayan.
Minto bertanya “ kenapa hanya
sendirian, nak ?” ,tangannya
pun sambil mengusap-usap
rambut gadis kecil
yang kusam dan
berwarna kemerahan pudar
karena terkena terik
matahari sepanjang waktu.
anak kecil itu
bilang bahwa “ Ibunya sedang
sakit, pak”. Gadis kecil
itu berkata dengan
nada memelas dan
tangannya masih tetap
menggenggam kaleng bekas. Minto
mengajaknya untuk mengantarkannya ke
rumahnya. Sesampai di
sebuang gang kecil
mobil tak bisa
masuk. Minto berjalan
kaki bersama anak
kecil itu dengan
membawa sebungkus makanan
dan buah-buahan.
“Ibu aku
pulang !” teriak
nak kecil itu
sementara minto masih
berada di luar.
“Kenapa kamu
pulang inikan masih pagi, mau
makan apa kita
besok ?” ibu muda
itu membentak anaknya
keras.
“Bapak itu Bu, datang
kemari !” anak kecil
itu berkata sambil
terisak-isak.
“Bapakmu sudah mati
gak usah kamu
ingat-ingat lagi ya ! “
bentak Ibunya lagi.
Tak berapa
lama minto muncul dari
dinding rumah depan.
Kini mata mereka
saling bertatapan cukup
lama.
“Ria . . .?” suara
parau keluar dari
mulut lelaki yang
mengenakan pakaian kantor
yang rapi, bulir-bulir air
mata menggenang di
pelupuk matannya.
Pemandangan kontras
kini terpampang nyata
di mata lelaki
berkelas itu, wanita
yang semestinya masih
cantik jelita kini
di hiasi pakaian
bekas yang sudah
rapuh, coreng moreng
di sekujur tubuhnya,
menandakan wanita itu
tidak sempat mengurus
diri.
“Minto . . .?” mata
wanita lusuh itu
terbelalak memandang lelaki
tampan dan rapi
itu.
Memori ingatan
terputar kembali di
dalam pikiran mereka
berdua, suasana hening,
seluruh gerakan yang
ada di bumi seakan
berhenti, air mata
terhenti di awang-awang seakan
melawan grafitasi bumi.
Jika waktu
bisa di ulang
kembali, mungkin kejadian
pahit tidak akan terjadi.
Namun apalah daya
segala sesuatunya telah
di jawab oleh
waktu. Penyesalan yang
tak berarti kini
terus menyelimuti hati
Ria, sebuah penyesalan
yang tiada guna
untuk di ungkapkan.
Kini hidup Ria
dalam selimut, selimut
kepedihan, yang selalu
menyelimuti hari-harinya. Ria
berselimutkan takdir penyesalan.
1 komentar:
Rasain ria....memang sudah spntsnya menerima itu smua. Penysln tiada lgi berguna, bak kata pepatah nasi sdh jdi bubur. Kecuali ria adalah seorang tukang bubur pasti semua bisa diuangkan. He...He..he
Posting Komentar