Membagi waktu
Dalam
sehari bisa kita
hitung waktu yang
telah kita habiskan,
yaitu selama 24 jam. Tuhan
maha adil bagi
seluruh hambanya, tidak
satupun mahluk yang
di lebihkan atas
waktunya. Tak perduli
mahluk itu seorang
yang kaya raya
bahkan melarat sekalipun.
Tidak
ada yang bisa
kita lakukan di
dalam waktu kecuali
hanya dengan mempergunakannya dengan
sebaik mungkin. Untuk
menjadi orang yang
berguna tentu kita
memang benar-benar telah mampu dalam
membagi waktu yang
hanya sedikit tersebut.
Perbedaan
orang miskin dengan
orang kaya bisa
di lihat bagaimana
caranya menggunakan waktu.
Coba kita melihat
masalah dari sudut
pandang yang berbeda
dulu. Dua kisah
anak muda ini bisa
kita ambil hikmahnya :
Adi dan Budi
adalah sama-sama pekerja
bangunan di sebuah
proyek letaknya di
pertengahan kota besar. Mereka
sama-sama tidak mempunyai skill
melainkan hanya sebagai
tukang angkat batu-bata
dan mengaduk semen.
Proyek ini
sangat besar membutuhkan
waktu lima tahun
untuk menyelesaikannya agar
menjadi sebuah plaza
bertingkat empat. Yang
namanya di kota pekerjaan
kuli bangunanpun menejadi
rebutan, sebab saking
sulitnya lapangan pekerjaan
yang ada di
indonesia.
Adi dan Budi
jauh-jauh dari kampung
menuju kota hanya
menjadi kuli bangunan.
Apalah daya mereka hanya
tamat SMP dan
tidak satupun perusahaan
yang menerima ijazah
setingkatan itu.
Setiap gaijan
Adi menyisihkan uang
untuk membeli buku
bacaan seperti novel
dan sebagian lagi
untuk membantu orangtuanya
yang tinggal di
kampung. Sedangkan si
Budi sebagian uangnya
untuk membeli baju,
nonton bioskop, rokok,
dan kebutuhan lain
yang tidak penting
dan sebagian lagi
untuk membangun rumah
masa depan di
kampungnya.
Setiap
hari Adi menghabiskan
waktunya hanya untuk
membaca, dia memanfaatkan
waktunya di jam istirahat
kerja dan di
malam hari. Telah
banyak novel yang di
baca Adi dan
timbulah niatnya untuk menulis
sebuah novel.
Sebaian
kecil waktunya di
habiskan untuk membaca
dan menulis. Satu
hari Adi hanya bisa
menghasilkan dua lembar
tulisan, tapi itu rutin
setiap hari. Di
emperan bangunan Budi selalu
menghardik Adi yang
menghabiskan waktunya hanya
untuk buku.
Dan
mengatakan bahwa hidup ini
jangan di buat
susah, karena hidup
hanya sekali dan
terimalah hidup apa
adanya. Adi sebagai
anak muda tidak
terlalu menghiraukan anjuran
Budi.
Tapi Adi malah menganjurkan kepada
Budi agar membaca-baca
buku miliknya dan belajar
menulis novel, tapi
berulang kali Budi
menolak. Budi lebih
baik kerja lembur
untuk mendapatkan uang
tambahan dari pada membaca
buku hanya menghabiskan
waktu. Sebaliknya Adi
tidak ingin memboroskan
tenaga di kala
muda.
LIMA
TAHUN BERLALU
Proyek
yang di kerjakan
oleh Budi dan
Adi beserta rombongannya
telah selesai dan
menjadi plaza termegah
di sebuah kota
besar. Pada umumnya
para kuli bangunan pulang kampung
atau pindah kerja
dengan proyek yang
baru lagi.
Bagaimana
nasip dua anak
muda yang telah
menghabiskan waktu selama
liama tahun di
kota.
Budi
telah sukses memiliki
rumah sendiri di
kampungnya berkat uang
yang dikirimkannya perbulan dan
di bantu oleh ayah
dan ibunya dalam
proses membangun rumah.
Rumah itu cukup
sederhana berukuran 5 x 6
meter.
Budi
membanggakan diri di
hadapan Adi karena
telah sukses memiliki
rumah. Adi hanya
terdiam. Ada sesuatu
yang hendak di
katakan si Adi
tapi takut Budi
menyesal setelah mendengar
ungkapannya.
Budi
mendesak apa yang
telah di dapatkan Adi
selama lima tahun
ini. Dengan memilih
kata yang baik
budi mengatak sesuatu,
“Telah
puluhan kali aku
mengirimkan naskah novel
ke penerbit tapi
semua itu gagal.
Tapi setahun yang
lalu naskahku di
terima oleh penerbit
mayor dan setahun
ini naskahku terjual
habis dan akan
cetak ulang lagi. Aku telah
membeli sebuah filla
di sudut kota
dan masih banyak
lagi uang yang
tersisa di rekeningku.”
Mendengar
ungkapan ini budi
langsung tersungkur di
pelukan Adi. Budi
sangat menyesal yang
telah mengabaikan nasihat
sahabatnya lima tahun
yang lalu. Mereka
berdua menangis
terisak-isak.
HIKMAH DARI
KISAH DI
ATAS.
Kita
tidak akan mudah percaya
dengan nasihat orang
yang setingkat dengan
kita atau bahkan
dengan nasihat orang
yang berada di bawah
level kita. Sebagian
beralasan dia hanya
bisa ngomong.
Tidak
mudah menjadi penasihat
tanpa memiliki bukti,
itulah yang di
rasakan Adi dalam cuplikan kisah
di atas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar