Rabu, 03 Februari 2016

membagi waktu



Membagi  waktu

Dalam  sehari  bisa  kita  hitung  waktu  yang  telah  kita  habiskan,  yaitu  selama  24 jam. Tuhan  maha  adil  bagi  seluruh  hambanya,  tidak  satupun  mahluk  yang  di  lebihkan  atas  waktunya.  Tak  perduli  mahluk  itu  seorang  yang  kaya  raya  bahkan  melarat  sekalipun.


Tidak  ada  yang  bisa  kita  lakukan  di  dalam  waktu  kecuali  hanya  dengan  mempergunakannya  dengan  sebaik  mungkin.  Untuk  menjadi  orang  yang  berguna  tentu  kita  memang  benar-benar  telah  mampu  dalam  membagi  waktu  yang  hanya sedikit  tersebut.


Perbedaan  orang  miskin  dengan  orang  kaya  bisa  di  lihat  bagaimana  caranya  menggunakan  waktu.  Coba  kita  melihat  masalah  dari  sudut  pandang  yang  berbeda  dulu.  Dua  kisah  anak muda  ini  bisa  kita  ambil  hikmahnya :


Adi  dan  Budi  adalah  sama-sama  pekerja  bangunan  di  sebuah  proyek  letaknya  di  pertengahan  kota besar.  Mereka  sama-sama  tidak  mempunyai  skill  melainkan  hanya  sebagai  tukang  angkat  batu-bata  dan  mengaduk  semen.


Proyek  ini sangat  besar  membutuhkan  waktu  lima  tahun  untuk  menyelesaikannya  agar  menjadi  sebuah  plaza  bertingkat  empat.  Yang  namanya di  kota  pekerjaan  kuli  bangunanpun  menejadi  rebutan,  sebab  saking  sulitnya  lapangan  pekerjaan  yang  ada  di  indonesia.


Adi  dan  Budi  jauh-jauh  dari  kampung  menuju  kota  hanya  menjadi  kuli  bangunan.  Apalah  daya  mereka hanya  tamat  SMP  dan  tidak  satupun  perusahaan  yang  menerima  ijazah  setingkatan  itu.


Setiap  gaijan  Adi  menyisihkan  uang  untuk  membeli  buku  bacaan  seperti  novel  dan  sebagian  lagi  untuk  membantu  orangtuanya  yang  tinggal  di  kampung.  Sedangkan  si  Budi   sebagian  uangnya  untuk  membeli  baju,  nonton  bioskop,  rokok,  dan  kebutuhan  lain  yang  tidak  penting  dan  sebagian  lagi  untuk  membangun  rumah  masa  depan  di  kampungnya.


Setiap  hari  Adi  menghabiskan  waktunya  hanya  untuk  membaca,  dia  memanfaatkan  waktunya  di jam  istirahat  kerja  dan  di  malam  hari.  Telah  banyak  novel  yang di  baca  Adi  dan  timbulah  niatnya untuk  menulis  sebuah  novel. 


Sebaian  kecil  waktunya  di  habiskan  untuk  membaca  dan  menulis.  Satu  hari  Adi  hanya bisa  menghasilkan  dua  lembar  tulisan,  tapi itu  rutin  setiap  hari.  Di  emperan  bangunan Budi  selalu  menghardik  Adi  yang  menghabiskan  waktunya  hanya  untuk  buku.


Dan  mengatakan  bahwa hidup  ini  jangan  di  buat  susah,  karena  hidup  hanya  sekali  dan  terimalah  hidup  apa  adanya.  Adi  sebagai  anak  muda  tidak  terlalu  menghiraukan  anjuran  Budi.

Tapi  Adi  malah  menganjurkan  kepada  Budi  agar  membaca-baca  buku  miliknya  dan belajar  menulis  novel,  tapi  berulang  kali  Budi  menolak.  Budi  lebih  baik  kerja  lembur  untuk  mendapatkan  uang  tambahan  dari pada  membaca  buku  hanya  menghabiskan  waktu.  Sebaliknya  Adi  tidak  ingin  memboroskan  tenaga  di  kala  muda.



LIMA  TAHUN  BERLALU



Proyek  yang  di  kerjakan  oleh  Budi  dan  Adi  beserta  rombongannya  telah  selesai  dan  menjadi  plaza  termegah  di  sebuah  kota  besar.  Pada  umumnya  para  kuli  bangunan pulang  kampung  atau  pindah  kerja  dengan  proyek  yang  baru  lagi.



Bagaimana  nasip  dua  anak  muda  yang  telah  menghabiskan  waktu  selama  liama  tahun  di  kota. 


Budi  telah  sukses  memiliki  rumah  sendiri  di  kampungnya  berkat  uang  yang dikirimkannya  perbulan  dan  di  bantu oleh  ayah  dan  ibunya  dalam  proses  membangun  rumah.  Rumah  itu  cukup  sederhana  berukuran  5 x 6  meter.


Budi  membanggakan  diri  di  hadapan  Adi  karena  telah  sukses  memiliki  rumah.  Adi  hanya  terdiam.  Ada  sesuatu  yang  hendak  di  katakan  si  Adi  tapi  takut  Budi  menyesal  setelah  mendengar  ungkapannya.


Budi  mendesak  apa  yang  telah  di dapatkan  Adi  selama  lima  tahun  ini.  Dengan  memilih  kata  yang  baik  budi  mengatak  sesuatu,  


“Telah  puluhan  kali  aku  mengirimkan  naskah  novel  ke  penerbit  tapi  semua  itu  gagal.  Tapi  setahun  yang  lalu  naskahku  di  terima  oleh  penerbit  mayor  dan  setahun  ini  naskahku  terjual  habis  dan  akan  cetak  ulang  lagi.  Aku  telah  membeli  sebuah  filla  di  sudut  kota  dan  masih  banyak  lagi  uang  yang  tersisa  di  rekeningku.”



Mendengar  ungkapan  ini  budi  langsung  tersungkur  di  pelukan  Adi.  Budi  sangat  menyesal  yang  telah  mengabaikan  nasihat  sahabatnya  lima  tahun  yang  lalu.  Mereka  berdua  menangis terisak-isak. 


HIKMAH  DARI KISAH  DI  ATAS.



Kita  tidak  akan mudah  percaya  dengan  nasihat  orang  yang  setingkat  dengan  kita  atau  bahkan  dengan   nasihat  orang  yang  berada di  bawah  level  kita.  Sebagian  beralasan  dia  hanya  bisa  ngomong. 
Tidak  mudah  menjadi  penasihat  tanpa  memiliki  bukti,  itulah  yang  di  rasakan  Adi  dalam cuplikan  kisah  di  atas. 

Tidak ada komentar: